Bikun Baru, Reaksi Emosional Rektorat Jangka Pendek

Bikun UI yang baru (foto: facebook.com)
Belum lama ini UI menambah armada bis kampusnya atau sering disebut para mahasiswa sebagai bis kuning (Bikun). Sungguh terlihat lux bis kuning baru itu. Awalnya saya pun sangat berbangga dengan kehadiran bikun baru tersebut. Entah mengapa ada kebanggaan tersendiri yang saya rasakan degan kehadiran bikun baru itu di kampus saya. Mungkin saya tidak munafik jikan keberadaan bikun baru itu menjadi hal yang akan saya sombongkan pada teman-teman saya yang berkuliah diluar UI.
.
Beberapa hari menikmati bikun baru, saya pun berfikir bahwa apakah dengan penambahan bikun baru ini BOP saya akan naik. Jawaban dari beberapa sumber yang saya percaya menyatakan tidak. Alasan kuatnya adalah UU UI tidak mengizinkan untuk menaikan BOP karena adanya biaya operasional dari sarana seperti bikun ini. Lalu dari mana UI dapat menutupi biaya operasional bikun baru jika tidak ada penambahan pendapatan dari BOP. Pertanyaan itu muncul dibenak saya karena sebelumnya saya mendapat informasi bahwa biaya operasional akibat outsourcing bikun baru ini menyentuh angka 20 juta. Angka yang luar biasa menurut saya. Jawabannya saya pikir dengan mengubah proporsi alokasi anggaran. Artinya jika kebijakan ini yang diberlakukan, ada kesejahteraan mahasiswa di sektor lain yang berkurang karena tersedot oleh biaya bikun baru. Hal ini menjadi isu penting karena sebenarnya apa yang terpangkas alokasinya oleh bikun baru tersebut.
Sejenak mari kita menunda isu pemangkasan alokasi anggaran. Sebenarnya, menurut akal pribadi, kegunaan bikun yang terpenting adalah mengantarkan mahasiswa tepat waktu ke tempat tujuannya di kampus. Perihal kenyamanan seperti AC, tempat duduk nyaman, dan sebagainya merupakan fasilitas penunjang yang selama ini tidak banyak dikeluhkan oleh mahasiswa. AC misalnya, tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap mahasiswa, terlebih di siang hari dengan keringat mengucur dan bau badan yang tak sedap.Namun saya yakin pandangan ini (prioritas antara ketepatan waktu dan fasilitas pendukung) sudah berubah sejak mahasiswa merasakan fasilitas bikun yang baru.
Saya melihat, akar permasalahan awal bikun yang diperjuangkan mahasiswa bukanlah bikun yang mewah dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Melainkan bagaimana bikun dapat membantu mahasiswa tepat waktu. Kaitan dengan kuantitas bikun lama yang berjumlah 10 (kalo gak salah-red) sudah mencukupi tanpa perlu adanya penambahan. maslahnya justru ada di berapa menit sekali bikun beroperasi. Ini yang sering dikesalkan mahasiswa, terkadang 1jam, setengah jam, 15 menit dan lain-lain. Waktu yang tidak menentu ini, karena selalu terjadi penumpukan bikun di asrama, yang menghambat mahasiswa untuk teat waktu.
Jikalau permasalahannya adalah waktu putar setiap bikun, sebenarnya kebijakan ini belum saatnya dilakukan. saya mengerti telinga rektorat sudah panas oleh tuntutan mahasiswa. selain itu rektorat juga perlu membuat kebijakan yang populis untuk melekatkan image baik di mata mahasiswa. Namun saya berpendapat kebijakan ini merupakan reksi emosional dari rektorat yang hanya baik untuk perhitungan jangka pendek. Seharusnya jika permasalahannya adalah seperti ini, rektorat tidak perlu melakukan outsourcing. kalau memang ingin melakukan perbaikan di bikun, yang merupakan bagian dari sarana, dapat berfikir jangka panjang. Rektorat dapat melakukan saving jika memiliki kelebihan pendapatan yang kemudian daat dilakukan perbaikan fasilitas. Jauh lebih penting dalam jangka pendek melakukan perbaikan yang lebih kearah core activities universitas tercinta kita ini.
Selain permasalahan anggaran yang dibahas diatas, permasalahan bikun baru ini juga dihiasi oleh supir-supir bikun lama yang terkatung nasibnya. Saya saat ini berfikir, apakah rumor Pak rektor hanya mementingkan infrastruktur itu adalah benar?
Huh…capek deh kalo gitu. :p
izal
7 Comments
Leave a Response
You must be logged in to post a comment.



Bikun baru ini baru satu-satunya kebijakan rektorat yang gw dukung, karena universitas yang pada dasarnya adalah “menjual jasa” pendidikan haruslah memberikan fasilitas kepada mahasiswa sebagai bentuk service-nya, ibaratnya universitas itu company dan mahasiswa adalah consumer…
UI itu sangat luas, udah seperti kota kecil menurut gw dan gak semua mahasiswa bawa kendaraan pribadi sehingga diperlukan sebuah transportasi umum, gratis, ya bikun ini….
Sayangnya armada bikun yang ada blom memadai, ditandai dengan ukuran bikun sendiri yang gak seragam, waktu tunggu yang angin-anginan dan lama, serta gw heran kenapa kalo bikun udah nyampe asrama, supirnya selalu istirahat mulu??
So, gw pikir kebijakan bikun baru ini gw harapkan dapat mengatasi gap dan keluhan-keluhan terutama memecahkan problem waktu tunggu yang lama dan kapasitas angkut
hahaha…
kalo mo dilihat enaknya, ya memang enak bikun baru ini. cuma kita kan gak bicara dalam tataran enak gak nya aja..saya menganalisa kalo untuk mewujudkan bikun yang dhiratara inginkan seperti sekarang ini, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk saat ini. terlebih kita sudah benar2 harus membiayai sendiri dengan adanya UU BHP..
kalo gak kita yang ingetin, sapa lagi…
Emang bikun baru ini akhirnya dibebankan ke biaya pendidikan, ya, Dzal? Kalo jawabannya “Ya”, tampaknya petinggi-petinggi rektorat perlu dijejalin ke otaknya buku “Service Marketing” karya Christopher Lovelock atau karya Valarie Zeithaml….
Bikun itu kan salah satu value-added unik yang ditawarkan UI, nah sebaiknya untuk meningkatkan customer loyalty (kalau dalam konteks ini customer loyalty berarti semua pihak, terutama mahasiswa tidak merasa terbebani dengan adanya bikun baru ini), gak usah dipungut biaya untuk itu… It’s all about SERVICE…
BTW, dari hasil wawancara or investigasi yang loe peroleh dari pihak rektorat mengenai kebijakan bikun baru, rektorat mengadakan riset atau survei dulu gak sama mahasiswa??
saya tidak tahu percis dari mana alokasi biskunig. dalam tulisan ini hanya melihat segi kemungkinan yang terjadi. saya pikir kalo memang ada jaminan BOP kita gak kan nailk, lalu dari mana pendapatan untuk menutupi biaya operasinal bikun baru ini. kalo gak ada pndapatan signifikan, saya pikir adalah dengan menggonakan teknik otak-atik propori alokasi. silakan teman2 merenungi dalam forum diskusi ini.
selamat berdiskusi..
Manfaatkan fasilitas yang ada untuk menunjang pendidikan yang serba mahal ini.
yang jelas rektor kita telah menelan ludahnya sendiri
dengan adanya bikun baru ini tentu polusi yang dihasilkan oleh keseluruhan bikun jelas bertambah
walupun mungkin baru tetap saja sebuah kendaraan bemotor mengahasilkan polusi yang jelas tidak baik
hal ini kontras sekali dengan pendapat beliau yang mengembar gemborkan jalur sepeda awal kepengurusannya…
demi mengurangi polusi maka akan disediaakn fasilitas untuk pejalan kaki
SEPEDA….
betapa tidak konsistennya…
bikun makin top…